Tuol Sleng dan Museum Nasional, Dua Wajah Sejarah Kamboja

Wisata Alam54 Views

Phnom Penh menyimpan dua museum yang membawa pengunjung memasuki perjalanan panjang bangsa Kamboja melalui arah yang sangat berbeda. Museum Genosida Tuol Sleng menghadirkan bukti kekerasan rezim Khmer Merah, sedangkan Museum Nasional Kamboja menjaga peninggalan seni, agama, dan kebudayaan Khmer dari berbagai periode.

Kedua museum tersebut bukan satu lembaga yang sama. Tuol Sleng berada di kawasan Boeung Keng Kang, menempati bekas kompleks sekolah yang pernah diubah menjadi pusat penahanan S 21. Museum Nasional Kamboja terletak di pusat kota, berdekatan dengan Istana Kerajaan, dengan bangunan berwarna merah bata yang menyimpan patung, benda perunggu, keramik, kayu, dan peninggalan arkeologi.

Kunjungan ke dua tempat ini memberikan gambaran lebih utuh mengenai Kamboja. Di satu tempat, pengunjung berhadapan dengan peradaban Khmer yang berkembang selama berabad abad. Di tempat lain, mereka melihat bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali mengubah sekolah menjadi ruang penahanan, pemeriksaan, dan pembunuhan.

Dua Museum Memperlihatkan Perjalanan Bangsa Kamboja

Museum Nasional Kamboja membawa pengunjung menuju periode prasejarah, masa sebelum Angkor, kejayaan Angkor, hingga masa setelah Angkor. Koleksinya memperlihatkan keterampilan seniman Khmer dalam mengolah batu, logam, kayu, dan tanah liat menjadi karya keagamaan serta benda kehidupan sehari hari. Tuol Sleng bergerak pada periode yang jauh lebih dekat, terutama ketika Khmer Merah menguasai negara tersebut pada 1975 hingga 1979.

Perbedaan isi kedua museum terlihat sejak pengunjung memasuki halamannya. Museum Nasional menghadirkan arsitektur yang terinspirasi bangunan tradisional Khmer, taman dengan kolam, serta galeri yang dipenuhi benda seni. Tuol Sleng mempertahankan bentuk sekolah bertingkat dengan koridor terbuka, ruang kelas, pagar kawat, sel tahanan, dan halaman yang menyimpan monumen bagi korban.

Kedua tempat tersebut juga mempunyai tujuan yang berbeda. Museum Nasional bertugas menjaga, meneliti, memamerkan, dan memperkenalkan kekayaan kebudayaan Kamboja. Tuol Sleng menjadi tempat peringatan, pendidikan, serta penyimpanan bukti mengenai sistem penindasan yang pernah dijalankan Khmer Merah.

Menurut penulis, memahami Kamboja tidak cukup hanya dengan mengagumi peninggalan Angkor. Pengunjung juga perlu mengetahui luka yang pernah dialami penduduknya agar perjalanan sejarah negara tersebut terlihat secara lebih lengkap.

Tuol Sleng Berawal dari Kompleks Sekolah

Sebelum dikenal sebagai penjara, kompleks Tuol Sleng merupakan kawasan pendidikan. Bangunan utamanya pernah digunakan sebagai Preah Ponhea Yat High School yang kemudian dikenal sebagai Tuol Svay Prey. Sekolah tersebut dibangun pada 1962 dan terdiri atas sejumlah gedung yang mengelilingi halaman terbuka.

Setelah Phnom Penh dikuasai Khmer Merah pada April 1975 dan penduduk kota dipaksa meninggalkan rumah mereka, kompleks sekolah tersebut diambil alih. Ruang kelas diubah menjadi sel tahanan, tempat pemeriksaan, ruang administrasi, dan lokasi penyiksaan. Kawasan itu kemudian dikenal sebagai Security Office 21 atau S 21.

Posisi S 21 sangat penting dalam jaringan keamanan Khmer Merah. Tempat ini bukan penjara biasa, melainkan pusat penahanan rahasia bagi orang yang dituduh sebagai musuh politik, pengkhianat, mata mata, atau bagian dari kelompok yang dicurigai menentang pemerintahan.

Tuduhan tidak hanya menyasar pejabat, tentara, dan anggota partai. Keluarga orang yang ditangkap juga dapat dibawa ke S 21 karena rezim menerapkan kesalahan berdasarkan hubungan keluarga atau pergaulan. Anak anak turut tercatat sebagai tahanan.

Ruang Kelas Diubah Menjadi Sel Sempit

Bangunan di kompleks Tuol Sleng masih memperlihatkan perubahan yang dilakukan selama masa S 21. Sebagian ruang kelas dibagi menjadi sel kecil menggunakan bata atau papan kayu. Sel tunggal tersebut memiliki lebar sekitar 0,8 meter dan panjang sekitar 2 meter. Ruangan lain digunakan untuk menahan banyak orang secara bersamaan.

Koridor pada lantai atas diberi kawat berduri. Langkah tersebut digunakan untuk mencegah tahanan melarikan diri atau mengakhiri hidup dengan melompat dari gedung. Di beberapa ruangan masih terdapat rantai besi, ranjang logam, serta susunan dinding yang dipertahankan sebagai bagian dari bukti fisik.

Halaman yang sebelumnya menjadi tempat murid berkumpul juga diubah. Peralatan yang pernah digunakan untuk kegiatan sekolah dimanfaatkan dalam pemeriksaan tahanan. Di halaman tersebut kini terdapat makam, pohon peneduh, bangku, dan monumen peringatan.

Bangunan yang sederhana justru membuat suasana Tuol Sleng terasa dekat. Pengunjung tidak melihat benteng atau penjara besar yang dibangun khusus, melainkan sekolah yang seharusnya menjadi tempat pendidikan. Perubahan fungsi itu memperlihatkan bagaimana fasilitas sipil dapat disalahgunakan oleh penguasa.

Foto Korban Menjadi Bagian Paling Kuat

Salah satu bagian yang paling dikenal di Tuol Sleng adalah kumpulan foto tahanan. Ketika seseorang tiba, petugas S 21 mencatat identitas, memberikan nomor, mengambil foto, dan mengumpulkan riwayat hidupnya. Dokumen tersebut dibuat sebagai bagian dari sistem administrasi penjara.

Ribuan wajah dipajang dalam susunan panjang. Ada laki laki, perempuan, orang lanjut usia, remaja, dan anak kecil. Sebagian terlihat kebingungan, sebagian menunjukkan luka, sedangkan lainnya memandang lurus ke kamera tanpa mengetahui apa yang akan terjadi setelah pencatatan selesai.

UNESCO menyatakan arsip Tuol Sleng menyimpan foto lebih dari 5.000 tahanan, dokumen pribadi, catatan petugas, serta pengakuan yang banyak di antaranya diperoleh melalui penyiksaan. Arsip itu masuk dalam daftar Memory of the World pada 2009 karena memiliki nilai dokumenter internasional.

Foto foto tersebut juga membantu keluarga menelusuri kerabat yang hilang. Dalam banyak kasus, seseorang dibawa tanpa penjelasan dan tidak pernah kembali. Dokumentasi S 21 kemudian menjadi salah satu sumber untuk mengetahui bahwa korban pernah ditahan di tempat tersebut.

Catatan Administrasi Membuka Sistem Kejahatan

Khmer Merah menjalankan pencatatan secara rinci meskipun tuduhan terhadap para tahanan sering dibuat tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Petugas menyimpan foto, biografi, daftar nama, catatan pemeriksaan, serta pernyataan yang dipaksakan.

Daftar yang diperiksa oleh lembaga peradilan Kamboja memuat sedikitnya 15.101 orang yang tercatat masuk ke S 21. Angka itu dipandang sebagai jumlah minimum karena tidak semua dokumen bertahan atau berhasil ditemukan. Museum sendiri menyebut sekitar 15.000 hingga 20.000 orang pernah dipenjarakan di kompleks tersebut.

Catatan tersebut kemudian digunakan dalam penelitian sejarah dan proses peradilan terhadap tokoh Khmer Merah. Bukti tertulis memperlihatkan rantai perintah, sistem pencatatan tahanan, hubungan antara S 21 dan lokasi lain, serta cara orang dipindahkan menuju tempat pembunuhan.

Choeung Ek Terhubung Langsung dengan S 21

Pada periode awal, sejumlah tahanan dibunuh di sekitar kompleks Tuol Sleng. Ketika jumlah tahanan meningkat, Choeung Ek yang berada di luar pusat Phnom Penh digunakan sebagai lokasi pembunuhan utama bagi orang yang telah selesai diperiksa di S 21. Para tahanan dibawa menggunakan kendaraan, biasanya pada malam hari.

Hubungan antara Tuol Sleng dan Choeung Ek membuat kedua lokasi sering dikunjungi dalam satu rangkaian. Tuol Sleng menunjukkan proses penangkapan, pencatatan, penahanan, dan pemeriksaan. Choeung Ek memperlihatkan tahap akhir dari sistem tersebut.

Pengunjung perlu memahami hubungan ini agar tidak melihat kedua tempat sebagai objek yang berdiri sendiri. UNESCO memasukkan Tuol Sleng dan Choeung Ek bersama bekas penjara M 13 dalam satu situs berseri bernama Cambodian Memorial Sites: From Centres of Repression to Places of Peace and Reflection.

Tuol Sleng Masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO

Pada 2025, Tuol Sleng resmi menjadi bagian dari daftar Warisan Dunia UNESCO bersama M 13 dan Choeung Ek. Ketiga lokasi tersebut dinilai mewakili tahapan sistem penindasan Khmer Merah, mulai dari pembentukan pusat penahanan, pengembangan jaringan pemeriksaan, hingga pembunuhan tahanan.

Penetapan itu tidak mengubah Tuol Sleng menjadi tempat wisata hiburan. Status tersebut memperkuat perlindungan bangunan, arsip, monumen, ruang tahanan, serta bukti lain yang tersimpan di kawasan museum.

UNESCO juga menekankan pentingnya pendidikan, peringatan korban, perdamaian, dan pencegahan pengulangan kekerasan serupa. Pengelolaan kawasan harus memperhatikan pelestarian, tekanan jumlah pengunjung, pembangunan perkotaan, serta perlakuan yang pantas terhadap peninggalan manusia.

Museum Nasional Menjaga Peradaban Khmer

Sekitar kawasan Istana Kerajaan berdiri Museum Nasional Kamboja, lembaga yang menyimpan salah satu koleksi kebudayaan Khmer terpenting. Museum tersebut memperlihatkan perjalanan seni Kamboja melalui patung dewa Hindu, figur Buddha, benda ritual, keramik, serta perlengkapan yang digunakan dalam kehidupan masyarakat.

Bangunannya dirancang oleh George Groslier, seorang sejarawan, kurator, penulis, dan tokoh yang terlibat dalam pengembangan pendidikan seni Kamboja. Batu pertama diletakkan pada 15 Agustus 1917, sedangkan museum diresmikan pada 13 April 1920 dalam perayaan Tahun Baru Khmer.

Desain museum mengambil inspirasi dari bentuk kuil Khmer yang terlihat pada relief kuno. Unsurnya kemudian diperbesar dan disesuaikan dengan kebutuhan ruang pamer. Warna merah pada dinding, atap bertingkat, ornamen pintu, serta halaman tengah membuat bangunan museum menjadi daya tarik tersendiri.

Bangunan tersebut mengalami penambahan pada 1924. Bagian tengah sisi timur juga pernah direnovasi pada 1968 di bawah pengawasan arsitek Kamboja Vann Molyvann.

Koleksi Membentang dari Prasejarah hingga Setelah Angkor

Museum Nasional memiliki koleksi yang berasal dari periode prasejarah, sebelum Angkor, masa Angkor, dan masa setelah Angkor. Benda koleksi dikelompokkan berdasarkan bahan utama, yaitu batu, logam, kayu, dan keramik.

Patung batu menjadi bagian yang paling menonjol. Pengunjung dapat melihat perubahan gaya tubuh, wajah, pakaian, perhiasan, dan posisi tangan pada karya yang berasal dari periode berbeda. Perubahan tersebut membantu menjelaskan perkembangan teknik serta pemikiran keagamaan masyarakat Khmer.

Koleksi perunggu memperlihatkan kemampuan pengrajin membuat figur Hindu dan Buddha, perlengkapan upacara, serta benda sehari hari. Produksi perunggu Khmer telah berlangsung sejak periode awal dan mencapai tingkat pengerjaan tinggi pada masa Angkor.

Keramik juga memiliki tempat penting karena memperlihatkan hubungan antara seni dan kebutuhan rumah tangga. Wadah, tempat penyimpanan, serta benda berbentuk hewan menunjukkan bahwa seniman Khmer tidak hanya membuat patung besar untuk kuil.

Museum menyatakan koleksinya tidak semata memperlihatkan pengaruh India. Seniman Khmer mengembangkan karakter sendiri melalui bentuk tubuh, susunan ornamen, pilihan bahan, dan cara menggambarkan figur keagamaan.

Museum Nasional Pernah Ditutup pada Masa Khmer Merah

Museum Nasional tidak terlepas dari periode kekuasaan Khmer Merah. Lembaga tersebut ditutup pada 1975 hingga 1979 ketika Phnom Penh dikosongkan. Bangunan ditinggalkan, atap mengalami kerusakan, taman tidak terurus, dan susunan koleksi menjadi berantakan.

Setelah Phnom Penh kembali dibuka, museum dibersihkan dan menerima pengunjung lagi pada 13 April 1979. Proses pemulihan tidak mudah karena banyak pegawai museum kehilangan nyawa selama pemerintahan Khmer Merah. Hilangnya kurator, peneliti, pengrajin, dan tenaga terampil membuat pekerjaan penyelamatan koleksi menjadi lebih berat.

Museum kemudian menjalankan pemulihan bangunan, perbaikan ruang penyimpanan, pendataan koleksi, pelatihan konservator, serta kerja sama dengan lembaga internasional. Perhatian juga diberikan terhadap benda yang pernah dijarah atau dibawa keluar Kamboja tanpa izin.

Upaya pengembalian artefak menjadi bagian penting dari pekerjaan museum. Benda bersejarah tidak hanya mempunyai nilai sebagai barang pamer, tetapi juga berkaitan dengan tempat asal, kepercayaan masyarakat, serta susunan pengetahuan mengenai peradaban Khmer.

Dua Museum Mengajarkan Cara Berbeda Memandang Sejarah

Museum Nasional memperlihatkan apa yang diciptakan masyarakat Kamboja selama berabad abad. Tuol Sleng memperlihatkan apa yang terjadi ketika hak manusia dihilangkan melalui kekuasaan, ketakutan, tuduhan, dan kekerasan yang dijalankan secara sistematis.

Di Museum Nasional, wajah pada patung menggambarkan dewa, Buddha, raja, atau tokoh keagamaan. Di Tuol Sleng, wajah dalam foto merupakan orang biasa yang identitasnya dicatat sebelum sebagian besar dari mereka dibunuh.

Keduanya juga berhubungan melalui kehilangan. Museum Nasional kehilangan banyak tenaga ahli ketika Khmer Merah berkuasa. Tuol Sleng menyimpan catatan tentang orang yang menjadi korban pemerintahan tersebut.

Penulis menilai kunjungan ke Museum Nasional sebaiknya dilakukan sebelum atau setelah Tuol Sleng karena keduanya membantu pengunjung melihat Kamboja sebagai bangsa dengan kebudayaan besar, bukan hanya negara yang pernah mengalami genosida.

Etika Berkunjung ke Museum Genosida Tuol Sleng

Tuol Sleng merupakan tempat peringatan sekaligus lokasi kematian. Pengunjung perlu mengenakan pakaian yang sopan, menjaga suara, mengikuti arah perjalanan, dan tidak memperlakukan ruang tahanan sebagai latar hiburan.

Pengelola meminta bagian lengan dan kaki tertutup sebagai bentuk penghormatan terhadap korban serta kebiasaan setempat. Beberapa bagian museum memuat foto korban, alat penahanan, lukisan penyintas, dan penjelasan mengenai penyiksaan. Materi tersebut dapat terasa berat bagi sebagian orang.

Museum menyebut pameran di dalam kompleks mungkin tidak sesuai bagi pengunjung berusia 14 tahun ke bawah. Orang tua perlu mempertimbangkan kesiapan anak sebelum membawa mereka masuk. Penjelasan sebaiknya diberikan sesuai usia tanpa menjadikan penderitaan korban sebagai tontonan.

Pengunjung juga dapat memakai panduan audio agar memahami hubungan antara gedung, foto, arsip, dan kesaksian. Mendatangi setiap ruangan tanpa penjelasan berisiko membuat benda yang dilihat terasa terpisah dari peristiwa yang melatarinya.

Jam Kunjungan dan Tiket Tuol Sleng

Museum Genosida Tuol Sleng buka setiap hari, termasuk hari libur, mulai pukul 08.00 hingga 17.00. Pintu masuk berada di Street 113, dekat persimpangan Street 350 di kawasan Boeung Keng Kang III.

Tiket wisatawan internasional berusia 18 tahun ke atas tercatat sebesar 5 dolar Amerika Serikat. Pengunjung berusia 10 hingga 17 tahun dikenai biaya 3 dolar, sedangkan anak di bawah 10 tahun tidak dikenai biaya dengan menunjukkan identitas. Pembayaran diterima secara tunai dalam riel Kamboja atau dolar Amerika Serikat.

Lantai dasar setiap bangunan dapat diakses dengan kursi roda, tetapi lantai atas hanya dapat dicapai melalui tangga. Pengunjung yang membutuhkan bantuan disarankan berbicara dengan petugas sebelum memulai perjalanan.

Museum juga menyediakan ruang baca, pemutaran film dokumenter pada hari kerja, program kesaksian pada jadwal tertentu, dan ruang untuk beristirahat setelah melewati pameran. Jadwal kegiatan dapat berubah sehingga pemeriksaan melalui informasi resmi tetap diperlukan.

Jam Kunjungan Museum Nasional Kamboja

Museum Nasional Kamboja berada di Street 13, berdekatan dengan Istana Kerajaan. Pintu pengunjung dan loket tiket berada di sudut Street 13 dan Street 178. Lokasinya mudah digabungkan dengan perjalanan menuju kawasan tepi Sungai Mekong dan Tonle Sap.

Museum buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 17.00, dengan penjualan tiket terakhir pada pukul 16.30. Tarif wisatawan asing berusia 18 tahun ke atas tercatat sebesar 10 dolar Amerika Serikat, sedangkan usia 10 hingga 17 tahun sebesar 5 dolar.

Pemandu tersedia dalam bahasa Khmer, Inggris, Prancis, dan Jepang. Pengunjung tidak diperbolehkan mengambil foto di dalam galeri, tetapi fotografi dapat dilakukan di bagian luar bangunan dan halaman tengah. Tas besar dapat dititipkan di ruang penyimpanan dekat pintu masuk.

Waktu kunjungan sekitar satu setengah hingga dua jam memungkinkan pengunjung memeriksa koleksi utama tanpa terburu buru. Perjalanan dapat dimulai dari galeri patung batu, dilanjutkan ke koleksi perunggu, kayu, dan keramik, kemudian beristirahat di taman tengah sebelum meninggalkan museum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *