Anak Magang Menang Lawan Robot AI, Sortir Paket Jadi Sorotan Dunia

Teknologi99 Views

Anak Magang Menang Lawan Robot AI, Sortir Paket Jadi Sorotan Dunia Adu cepat antara manusia dan robot kembali menjadi pembahasan besar setelah seorang anak magang di startup robotika Figure AI berhasil mengalahkan robot humanoid dalam lomba menyortir paket selama 10 jam. Tantangan ini digelar di kantor pusat Figure AI di San Jose, California, Amerika Serikat, dan disiarkan secara langsung sebagai bagian dari uji ketahanan robot dalam pekerjaan logistik. Sosok manusia yang tampil dalam adu ketangkasan tersebut adalah Aimé Gérard, anak magang yang bekerja sebagai visualization specialist. Ia berhadapan dengan robot humanoid F.03 milik Figure AI dalam tugas sederhana tetapi melelahkan, yaitu mengambil paket, membaca posisi, lalu menaruhnya di jalur konveyor dengan orientasi yang benar. Hasil akhirnya mengejutkan banyak penonton karena Gérard mampu menyortir 12.924 paket, unggul 192 paket dari robot yang menyelesaikan 12.732 paket.

Anak Magang Menang Tipis dalam Adu Sortir Paket

Kemenangan Gérard langsung menyita perhatian karena berlangsung di tengah klaim besar perusahaan robotika tentang kemampuan robot humanoid bekerja mendekati kecepatan manusia. Dalam lomba ini, selisihnya memang tidak jauh. Gérard rata rata membutuhkan 2,79 detik untuk setiap paket, sedangkan robot F.03 mencatat rata rata 2,83 detik per paket. Perbedaan 0,04 detik per paket tampak kecil, tetapi dalam ribuan pengulangan selama 10 jam, angka kecil itu berubah menjadi keunggulan nyata bagi manusia.

Selisih 192 Paket Jadi Bukti Manusia Masih Unggul

Kemenangan dengan selisih 192 paket menunjukkan bahwa manusia masih memiliki keunggulan dalam pekerjaan berulang yang membutuhkan koordinasi tangan, mata, kecepatan membaca situasi, dan koreksi kecil secara cepat. Gérard harus menjaga ritme selama berjam jam, menghadapi rasa lelah, serta tetap akurat dalam memindahkan paket.

Robot F.03 juga tampil cukup kuat. Ia mampu bertahan dalam ritme kerja panjang dan mencatat kecepatan yang sangat dekat dengan manusia. Namun, dalam tugas yang terlihat sederhana sekalipun, manusia masih dapat melakukan penyesuaian kecil lebih cepat. Saat paket agak bergeser, posisi tidak rapi, atau gerakan perlu dikoreksi, pekerja manusia biasanya bisa merespons tanpa perlu menghitung ulang gerakan seperti mesin.

Robot Sempat Unggul Saat Manusia Istirahat

Dalam perjalanan lomba, robot sempat mengambil posisi unggul ketika Gérard harus meninggalkan area kerja untuk beristirahat. Business Insider mencatat anak magang tersebut mendapat jeda makan dan istirahat sesuai aturan ketenagakerjaan California. Saat manusia mengambil jeda, robot dapat terus bekerja karena tidak memiliki kebutuhan biologis seperti makan, minum, atau ke toilet.

Bagian ini membuat pertandingan menjadi menarik. Jika hanya melihat kemampuan bekerja tanpa jeda, robot memiliki keuntungan besar. Namun, jika melihat kecepatan dan ketepatan dalam satuan kerja yang sama, manusia masih bisa unggul. Inilah yang membuat hasil 10 jam tersebut ramai dibahas, karena kemenangan manusia terjadi meski mesin memiliki kelebihan dalam hal stamina operasional.

Figure AI Menjadikan Sortir Paket Sebagai Panggung Uji

Figure AI tidak menggelar lomba ini hanya untuk hiburan. Perusahaan tersebut sedang memperlihatkan kemampuan robot humanoid F.03 dalam pekerjaan gudang dan logistik. Sebelum adu langsung dengan manusia, Figure AI sudah menyiarkan robotnya bekerja menyortir paket secara langsung selama berjam jam. Siaran itu menjadi tontonan viral di kalangan pemerhati teknologi karena menampilkan robot melakukan pekerjaan yang sangat biasa, tetapi justru terasa penting untuk menilai kesiapan otomatisasi.

Tugasnya Sederhana, tetapi Sangat Melelahkan

Dalam uji tersebut, robot bertugas mengambil paket, memastikan barcode berada pada posisi tertentu, lalu meletakkannya ke konveyor. Bagi manusia, pekerjaan seperti ini terlihat mudah dalam beberapa menit pertama. Namun, ketika dilakukan selama 10 jam, tugas tersebut menjadi sangat berat karena membutuhkan gerakan berulang tanpa kehilangan fokus.

Pekerjaan seperti ini umum ditemukan di pusat logistik. Paket datang dengan ukuran, berat, dan posisi berbeda. Pekerja harus terus menyesuaikan genggaman, membaca arah label, dan menjaga alur agar paket tidak menumpuk. Robot humanoid yang ingin masuk ke area gudang harus bisa melakukan pekerjaan semacam ini dengan stabil, bukan hanya dalam video pendek.

Siaran Langsung Jadi Strategi Pembuktian

Figure AI sebelumnya menargetkan demonstrasi kerja selama delapan jam. Setelah robot disebut mampu bekerja tanpa kegagalan, perusahaan melanjutkan siaran lebih lama. Laporan Business Insider menyebut robot humanoid Figure sempat menyortir lebih dari 30.000 paket dalam rentang lebih dari 24 jam, dengan beberapa robot siap menggantikan unit yang perlu mengisi daya.

Strategi siaran langsung ini memberi pesan bahwa perusahaan ingin menunjukkan ketahanan, bukan hanya kemampuan sesaat. Dalam industri robotika, video demonstrasi singkat sering dikritik karena bisa dipilih dari hasil terbaik. Siaran panjang memberi ruang bagi publik untuk melihat jeda, kesalahan kecil, koreksi gerakan, dan ritme kerja yang lebih nyata.

Robot F.03 Disebut Berbasis Helix 02

Robot yang dipakai dalam uji tersebut disebut sebagai F.03. Figure AI secara umum memperkenalkan Figure 03 sebagai robot humanoid serbaguna, sementara sistem kecerdasannya memakai Helix, teknologi AI yang dirancang untuk membantu robot memahami lingkungan dan menjalankan tugas fisik. Laman resmi Figure menyebut Figure 03 sebagai robot humanoid general purpose, sedangkan Helix disebut sebagai kecerdasan di balik robot tersebut.

Humanoid Dipilih karena Meniru Lingkungan Kerja Manusia

Robot humanoid dirancang dengan bentuk mirip manusia agar bisa bekerja di tempat yang awalnya dibuat untuk manusia. Gudang, pabrik, dapur, rumah, dan toko memiliki meja, rak, pintu, alat, serta area kerja yang mengikuti tinggi dan jangkauan manusia. Dengan bentuk tubuh humanoid, robot diharapkan bisa masuk ke lingkungan tersebut tanpa banyak perubahan besar.

Namun, bentuk manusia juga membawa tantangan. Robot harus bisa menjaga keseimbangan, menggerakkan lengan, memahami benda, menyesuaikan jari, dan membaca ruang secara langsung. Itulah sebabnya tugas menyortir paket menjadi menarik. Ia tampak sederhana, tetapi membutuhkan banyak kemampuan dasar robotika yang sulit disatukan.

Kecepatan Robot Sudah Mendekati Pekerja Manusia

Dalam lomba ini, selisih waktu per paket sangat tipis. Robot mencatat rata rata 2,83 detik per paket, sementara Gérard berada di 2,79 detik. Angka itu menunjukkan bahwa robot humanoid sudah bisa berada di wilayah kecepatan manusia pada tugas yang sangat terstruktur.

Meski begitu, kecepatan bukan satu satunya ukuran keberhasilan. Untuk digunakan di pusat logistik nyata, robot harus akurat, tahan lama, mudah dirawat, aman saat berada dekat manusia, dan mampu menangani variasi paket yang lebih luas. Lingkungan gudang nyata tidak selalu serapi area demonstrasi.

CEO Figure AI Sebut Ini Kemenangan Terakhir Manusia

Pendiri dan CEO Figure AI, Brett Adcock, menanggapi hasil tersebut dengan pernyataan yang langsung ramai dibahas. Ia menulis bahwa ini adalah terakhir kalinya manusia akan menang.

Pernyataan Besar di Tengah Kekalahan Tipis

Pernyataan Adcock dapat dibaca sebagai keyakinan perusahaan bahwa generasi robot berikutnya akan semakin cepat dan semakin stabil. Dalam dunia teknologi, hasil kalah tipis sering tetap dipakai sebagai bukti kemajuan. Bagi Figure AI, robot yang hanya tertinggal 192 paket dari manusia selama 10 jam dapat dianggap sebagai pencapaian besar.

Namun, bagi publik, kemenangan Gérard tetap terasa penting. Banyak orang melihat hasil itu sebagai pengingat bahwa manusia belum mudah digantikan, terutama dalam pekerjaan yang membutuhkan penyesuaian spontan. Robot memang tidak lelah seperti manusia, tetapi manusia masih unggul dalam keluwesan gerak dan cara membaca hal kecil yang berubah cepat.

Publik Membaca Hasil Ini dengan Dua Cara

Sebagian orang melihat hasil tersebut sebagai kemenangan manusia atas mesin. Mereka menilai pekerja manusia masih lebih cepat, lebih lentur, dan lebih mampu mengatasi variasi. Sebagian lainnya justru melihat robot sebagai pemenang tak langsung karena selisihnya sangat tipis dan robot dapat terus bekerja dengan sistem pergantian unit.

Dua cara pandang ini membuat peristiwa tersebut menjadi bahan diskusi luas. Kemenangan Gérard membuktikan manusia masih unggul hari itu. Tetapi performa F.03 juga menunjukkan bahwa robot humanoid sudah cukup dekat untuk membuat industri logistik memperhatikan teknologi ini lebih serius.

Pakar Robotika Masih Menilai Teknologi Belum Siap Penuh

Di balik antusiasme publik, sejumlah pakar tetap memberi catatan hati hati. Business Insider mengutip Ayanna Howard, dekan College of Engineering di Ohio State University, yang menilai teknologi tersebut masih belum siap untuk penerapan penuh di pusat logistik. Ia menyoroti masalah akurasi, termasuk paket yang kadang diletakkan dengan orientasi barcode salah atau terdorong keluar jalur.

Akurasi Lebih Penting dari Sekadar Kecepatan

Dalam gudang nyata, kesalahan kecil dapat menimbulkan masalah besar. Paket yang salah arah bisa mengganggu pemindaian. Barang yang jatuh bisa rusak. Paket yang tertukar bisa membuat pengiriman terlambat. Karena itu, robot tidak cukup hanya cepat. Ia harus mampu bekerja dengan tingkat kesalahan yang sangat rendah.

Jika robot menyelesaikan ribuan paket tetapi membuat kesalahan secara berkala, perusahaan tetap harus menempatkan manusia untuk memeriksa hasilnya. Ini dapat mengurangi nilai otomatisasi karena tugas pengawasan masih memakan tenaga dan biaya.

Demonstrasi Belum Sama dengan Operasi Gudang Nyata

Lingkungan uji biasanya lebih terkendali daripada gudang komersial. Dalam gudang nyata, ukuran paket lebih beragam, permukaan bisa licin, label bisa rusak, pencahayaan berubah, dan manusia lain bergerak di sekitar robot. Semua hal itu membuat pekerjaan lebih rumit.

Robot humanoid perlu mampu menghadapi variasi seperti itu sebelum benar benar menggantikan pekerja dalam skala besar. Pada tahap sekarang, demonstrasi F.03 lebih tepat dibaca sebagai kemajuan penting, bukan bukti bahwa pekerjaan manusia di gudang sudah selesai.

Robot Bisa Bekerja Lama, Manusia Lebih Adaptif

Salah satu pelajaran utama dari adu sortir ini adalah perbedaan kekuatan manusia dan robot. Manusia lebih adaptif, tetapi memiliki batas fisik. Robot bisa bekerja lama, tetapi masih harus membuktikan ketepatan dan ketangguhan dalam keadaan yang tidak terduga.

Manusia Cepat Membaca Perubahan Kecil

Saat paket sedikit miring, label tertutup, atau posisi genggaman kurang nyaman, manusia bisa langsung mengubah gerakan tanpa terlihat berpikir. Otak dan tubuh manusia sudah sangat terlatih untuk menangani benda dengan variasi kecil. Kemampuan ini sering diremehkan karena terasa alami.

Robot harus mengandalkan kamera, sensor, model AI, motor penggerak, dan algoritma untuk melakukan hal yang sama. Setiap gerakan harus diproses. Jika posisi objek berbeda dari yang sering dilatih, robot dapat melambat atau salah mengambil keputusan.

Robot Menang dalam Ketahanan Operasional

Di sisi lain, robot memiliki kelebihan yang sulit ditandingi manusia. Ia tidak merasa bosan, tidak pegal, tidak butuh makan, dan bisa diganti unit lain saat baterainya habis. Dalam siaran Figure AI, beberapa robot disiapkan agar dapat bergantian ketika satu unit perlu mengisi daya.

Bagi industri, ketahanan seperti ini sangat menarik. Pusat logistik bekerja dalam tekanan waktu tinggi. Jika robot bisa bekerja stabil sepanjang hari dengan kesalahan rendah, perusahaan akan melihatnya sebagai alat yang dapat mengurangi ketergantungan pada shift manusia.

Adu Sortir Paket Menyentuh Isu Pekerjaan Gudang

Peristiwa ini langsung dikaitkan dengan kekhawatiran soal pekerjaan manusia. Gudang dan pusat logistik adalah sektor yang banyak memakai tenaga kerja untuk memindahkan, menyortir, memeriksa, dan mengemas barang. Jika robot humanoid bisa mengambil sebagian tugas tersebut, susunan tenaga kerja dapat berubah.

Pekerjaan Berulang Paling Mudah Diincar

Tugas yang paling mungkin otomatis adalah pekerjaan berulang dengan pola jelas. Sortir paket, memindahkan barang dari rak, mengambil benda dari konveyor, dan menempatkan paket ke titik tertentu termasuk jenis pekerjaan yang menjadi sasaran awal robot humanoid.

Meski demikian, tidak semua pekerjaan gudang dapat diganti sekaligus. Masih banyak tugas yang membutuhkan penilaian manusia, komunikasi, penanganan barang rusak, koordinasi tim, dan penyelesaian masalah saat sistem berhenti. Robot dapat mengambil sebagian pekerjaan, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk pengawasan, pemeliharaan, pengecekan, dan pengambilan keputusan.

Anak Magang Menjadi Simbol Kemampuan Manusia

Kemenangan Gérard terasa kuat karena ia bukan pekerja gudang senior, melainkan anak magang di perusahaan teknologi. Ia bekerja sebagai visualization specialist, bukan operator logistik profesional. Fakta ini membuat hasil lomba lebih menarik karena manusia biasa dengan ketahanan cukup mampu mengalahkan robot canggih dalam pekerjaan fisik berulang.

Namun, kemenangan itu juga harus dibaca secara seimbang. Robot F.03 hanya kalah tipis. Jika perangkat lunak, sensor, tangan robot, dan sistem tenaga terus diperbaiki, hasil pertandingan serupa bisa berubah dalam waktu dekat.

Mengapa Robot Humanoid Tetap Menarik untuk Industri

Banyak pihak bertanya mengapa perusahaan memakai robot humanoid untuk menyortir paket, padahal mesin sortir khusus sudah lama ada dan bisa jauh lebih cepat. Jawabannya terletak pada fleksibilitas. Mesin khusus bekerja sangat baik untuk satu jalur tertentu, tetapi sulit dipindahkan ke tugas lain tanpa perubahan fasilitas.

Robot Humanoid Bisa Dipakai di Ruang yang Sudah Ada

Robot humanoid dapat bekerja di lingkungan yang dibuat untuk manusia. Ia bisa memakai meja, konveyor, rak, dan alat yang sudah tersedia. Jika berhasil, perusahaan tidak perlu membangun ulang seluruh gudang. Mereka cukup menempatkan robot pada titik kerja tertentu.

Fleksibilitas ini menjadi alasan mengapa startup seperti Figure AI mengejar bentuk humanoid. Targetnya bukan mengganti mesin sortir besar yang sudah sangat efisien, melainkan mengisi celah pekerjaan yang masih membutuhkan tubuh manusia karena terlalu beragam untuk mesin khusus.

Nilai Terbesarnya Ada pada Banyak Tugas

Robot humanoid akan jauh lebih bernilai jika dapat melakukan banyak tugas. Hari ini menyortir paket. Besok memindahkan barang. Lusa membersihkan area kerja. Setelah itu membantu pengecekan stok. Jika satu robot bisa dipakai untuk berbagai tugas, nilai ekonominya meningkat.

Namun, kemampuan serbaguna seperti itu masih harus dibuktikan. Lomba sortir paket memberi satu contoh kemampuan, tetapi belum cukup untuk menunjukkan robot dapat bekerja di semua bagian gudang. Industri akan menunggu data lebih rinci tentang biaya, daya tahan, jumlah kesalahan, dan kebutuhan perawatan.

Siaran Robot Jadi Tontonan Viral

Salah satu hal unik dari peristiwa ini adalah siaran langsung robot menyortir paket justru menjadi tontonan viral. Aktivitas yang terlihat monoton berubah menjadi hiburan teknologi. Penonton memberi nama robot seperti Bob, Frank, dan Gary, lalu mengikuti performa mereka seperti menonton pertandingan panjang.

Teknologi yang Membosankan Justru Menarik

Sortir paket bukan tontonan yang biasanya memancing perhatian. Namun, ketika dilakukan robot humanoid, pekerjaan biasa itu berubah menjadi pertunjukan. Penonton ingin melihat apakah robot akan jatuh, salah mengambil paket, berhenti, atau terus bekerja tanpa kesalahan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa publik semakin penasaran melihat AI keluar dari layar komputer dan masuk ke dunia fisik. Selama ini, banyak orang mengenal AI melalui chatbot, gambar digital, atau aplikasi. Robot humanoid memberi bentuk nyata dari AI yang bisa bergerak, menyentuh benda, dan melakukan pekerjaan fisik.

Skeptisisme Tetap Muncul

Meski banyak yang kagum, sebagian penonton mempertanyakan apakah robot benar benar bekerja mandiri. TechRadar mencatat ada penonton yang curiga setelah melihat gerakan tertentu, termasuk robot yang menyentuh bagian kepala, sehingga muncul dugaan kendali jarak jauh. Namun, Figure AI menekankan bahwa robot bekerja secara otonom tanpa supervisi manusia dalam siaran tersebut.

Keraguan seperti ini wajar dalam dunia robotika. Publik pernah melihat beberapa demonstrasi robot yang ternyata masih melibatkan bantuan manusia di balik layar. Karena itu, perusahaan perlu terus membuka data, cara kerja, dan hasil uji agar klaim otonomi dapat dipercaya.

Pelajaran untuk Dunia Kerja dan Teknologi

Adu sortir antara Gérard dan F.03 memberi pelajaran bahwa persaingan manusia dan robot tidak selalu berakhir dengan kemenangan mutlak salah satu pihak. Di satu sisi, manusia menang dalam hasil akhir. Di sisi lain, robot menunjukkan peningkatan besar dalam ketahanan dan kecepatan.

Manusia Masih Punya Ruang Kuat

Kemenangan anak magang tersebut membuktikan bahwa tubuh manusia masih sangat unggul dalam pekerjaan fisik yang memerlukan penyesuaian cepat. Gerakan tangan manusia, koordinasi mata, dan kemampuan mengatasi hal kecil yang berubah tiba tiba masih sulit ditiru robot dengan sempurna.

Pekerja manusia juga memiliki kemampuan sosial dan penilaian langsung. Mereka bisa bertanya, memperbaiki cara kerja, memahami instruksi baru, dan menyadari masalah yang tidak tertulis dalam sistem. Kekuatan semacam ini belum mudah digantikan oleh mesin.

Robot Makin Dekat dengan Target Industri

Di saat yang sama, performa F.03 tidak bisa dianggap lemah. Selisihnya sangat kecil untuk uji selama 10 jam. Robot humanoid yang mampu bertahan dalam pekerjaan fisik panjang dan hanya kalah tipis dari manusia sudah cukup untuk membuat perusahaan logistik dan pabrik memperhatikan teknologi tersebut.

Bagi Figure AI, hasil ini dapat dipakai sebagai bahan promosi kepada calon pelanggan dan investor. Bagi pekerja, hasil ini menjadi tanda bahwa jenis pekerjaan berulang akan semakin banyak berhadapan dengan otomatisasi.

Indonesia Perlu Membaca Tren Robotika Logistik

Walau peristiwa ini terjadi di Amerika Serikat, sektor logistik Indonesia juga perlu memperhatikannya. Pertumbuhan belanja daring, gudang e commerce, layanan kurir, dan pusat distribusi membuat pekerjaan sortir paket semakin penting. Saat volume paket naik, perusahaan akan mencari cara untuk mempercepat pemrosesan dan menekan biaya operasional.

Gudang Nasional Bisa Belajar dari Uji Global

Indonesia memiliki pasar logistik yang besar, terutama di kota besar dan kawasan industri. Saat ini, sebagian pusat sortir sudah memakai konveyor, pemindai, dan sistem digital. Jika robot humanoid semakin matang, bukan tidak mungkin perusahaan besar mulai menguji teknologi serupa untuk tugas yang masih banyak dikerjakan manusia.

Namun, penerapannya tidak akan mudah. Harga robot, perawatan, ketersediaan teknisi, keselamatan kerja, dan kecocokan dengan gudang lokal harus dihitung matang. Di banyak tempat, pekerja manusia masih jauh lebih murah dan fleksibel daripada robot canggih.

Keterampilan Pekerja Harus Ikut Berubah

Jika robot masuk ke gudang, pekerjaan manusia tidak hilang seluruhnya, tetapi bisa berubah. Operator akan lebih banyak memantau mesin, memperbaiki kesalahan sistem, membaca data, dan menjaga keamanan area kerja. Pekerja yang hanya mengandalkan tugas berulang akan menghadapi tekanan lebih besar.

Karena itu, pelatihan menjadi penting. Pekerja logistik perlu dibekali kemampuan dasar teknologi, keselamatan kerja dengan mesin, pemahaman perangkat lunak gudang, serta kemampuan memecahkan masalah di lapangan. Dengan cara itu, manusia tetap punya posisi kuat dalam sistem kerja yang semakin otomatis.

Adu Manusia dan Robot Belum Selesai

Kemenangan Aimé Gérard atas robot F.03 menjadi kisah menarik karena terjadi pada saat banyak perusahaan teknologi sedang berlomba menunjukkan kemampuan robot humanoid. Hasilnya tidak membuat robot terlihat gagal, tetapi juga tidak membuat manusia tampak kalah. Justru, peristiwa ini memperlihatkan bahwa jarak antara manusia dan robot dalam pekerjaan fisik tertentu semakin rapat.

Angka Kecil yang Membuka Perdebatan Besar

Selisih 192 paket dalam 10 jam mungkin terlihat kecil, tetapi peristiwa ini membawa pertanyaan besar bagi industri. Apakah robot sudah cukup dekat untuk masuk gudang secara luas. Apakah manusia masih lebih efisien ketika biaya, akurasi, dan fleksibilitas dihitung bersama.

Pertanyaan itu belum memiliki jawaban final. Yang jelas, adu sortir paket ini membuat publik melihat perkembangan robotika secara lebih nyata. Tidak lagi sebatas demo berjalan, melambaikan tangan, atau berbicara. Robot kini diuji dalam pekerjaan membosankan yang justru menjadi tulang punggung banyak industri.

Anak Magang Jadi Nama yang Diingat

Aimé Gérard mungkin awalnya hanya ikut dalam tantangan internal perusahaan. Namun, kemenangannya membuat namanya masuk ke cerita besar tentang manusia dan mesin. Ia menunjukkan bahwa ketekunan, ritme, dan kemampuan fisik manusia masih memiliki nilai tinggi bahkan saat melawan robot AI yang dirancang khusus untuk bekerja tanpa lelah.

Di sisi lain, robot F.03 juga membawa pesan kuat. Kalah tipis dari manusia selama 10 jam bukan hasil kecil. Bagi perusahaan robotika, itu cukup untuk menunjukkan bahwa robot humanoid semakin mendekati pekerjaan nyata. Bagi pekerja manusia, itu menjadi pengingat bahwa keunggulan manusia perlu terus diperkuat dengan keterampilan baru, bukan hanya mengandalkan rutinitas lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *